Senin, 23 November 2015

Jatuh Cinta atau Cinta Sejati ?

Jatuh Cinta atau Cinta Sejati ?

Kadang orang selalu menanyakan apa itu cinta? Seberapa besar cintamu padaku? Apakah kamu mencintaiku? Bicara mengenai cinta tentu saja tidak lepas dari relasi atau hubungan antara manusia. Tidak hanya pria dan wanita. Tetapi bicara cinta bisa dipahami dalam hubungan di dalam keluarga. Antara orang tua dan anak atau saudara. Mungkin juga terhadap pekerjaan yang sedang dijalani. Cinta itu universal dan cukup luas untuk hanya dipahami dalam satu aspek saja. Mungkin membicarakan teori mengenai cinta, memunyai banyak pemahaman tersendiri. Dan bahkan cinta itu suatu misteri yang tidak terungkap. Apakah cinta hanya berkaitan dengan rasa dan ungkapan kata-kata? Di dalam artikel ini saya berusaha untuk berbagi teori dan pemahaman mengenai cinta. Dan saya hanya memfokuskan pada hubungan pria dan wanita. Tidak lebih.
Terkadang cinta banyak dipahami dari berbagai sudut pandang. Setiap orang bisa menafsirkan cinta menurut pandangannya. Silahkan dan itu tidak salah. Untuk mengawalinya, saya akan bertanya kepada kamu,”Mengapa kamu mau jadi pacarnya?” ”Apa yang membuat dirimu tertarik padanya?” ”Apa kamu mencintainya?” ”Kok kamu mau sama dia?” Ini pertanyaan sederhana yang sering ditanyakan. Namun kita justru sulit untuk menjawabnya. ”Ya pokoknya saya mau aja!”. ”Habis dia ganteng sich!”. ”Dia cantik dan kulitnya mulus”. ”Dia orangnya baik dan pintar”. “Ya! Aku mencintainya karena bla bala bla….Seabreak jawaban kamu bisa sampaikan. Tapi apakah karena itu semua? Itu yang perlu kita lihat sekarang.
Jatuh Cinta
Sobat! Pernahkah kamu jatuh cinta? Saya yakin pasti kamu pernah merasakannya. Bukankah jatuh cinta itu seperti hidup di dalam keindahan? Kalau di sinetron orang yang sedang jatuh cinta diibaratkan sedang berjalan di suatu taman yang indah. Kupu-kupu beterbangan dan bunga saling bermekaran. Mungkin ini hanya suatu penggambaran dari pribadi seseorang yang sedang merasakan cinta. Atau mencintai seseorang dan saling bertaut. Keduanya merasakan hal yang sama. Di dalam buku karangan seorang teman yang saya baca disebutkan bahwa, kalau kita sedang jatuh cinta, kita cenderung menunjukkan hal yang baik dari diri sendiri. Tidak hanya itu, kita juga melihat orang yang dijatuhi cinta itu sebagai sosok yang ideal, yang tidak atau sedikit memiliki kesalahan. Kita tidak menginginkan keburukan, kejelekan atau kelemahannya. Prinsipnya, orang yang kita jatuhi cinta itu baik seturut dengan mata kita. Yang lain tentu saja ngontrak bukan? Nah Kalau hal ini terjadi di dalam diri kita, maka kita menjadi sulit untuk berbagi. Kebaikan hanya untuk kita sendiri, yang lain tidak kebagian. Dalam keadaan jatuh cinta kita akan menampilkan cinta yang tidak autentik. Semua serba disembunyikan, ditutupi bahkan kita akan berlagak sabar, lucu, sok perhatian, dan kemana-mana harus berdua. Ada kewajiban malam kinggu harus ngapel, Bertemu secara fisik tiap hari, memberi kabar tiap jam, wah banyak lagi dech. Pokoknya romantis sekali!. Maka kita akan menjadi tidak senang kalau orang yang kita jatuhi cinta itu didekati orang lain. Ingat! Orang yang kita jatuhi cinta bukan hanya miliki kita sendiri. Nah dalam keadaan jatuh cinta seperti ini biasanya tidak bertahan lama, karena tidak dibangun dengan dasar yang kuat. Sehingga yang terjadi adalah kerapuhan pondasi, karena tidak autentik tadi.

Cinta sejati
Nah sobat bagaimana dengan cinta sejati? Pernahkan kamu menemukan orang yang tepat untuk kamu sebut sebagai cinta sejati? Dialah cinta sejatiku!! Mungkin kamu akan mengatakan demikian. Cinta sejati berbicara tidak hanya dalam satu waktu saja. Cinta sejati dibangun atas dasar keseluruhan pribadi yang nampak pada seseorang. Dan ini bisa dibuktikan dengan berjalannya waktu. Waktulah yang bisa menguji apakah dia cinta sejatiku atau tidak. Kalau sedang jatuh cinta kita hanya melihat kebaikannya saja, dalam cinta sejati kita diajak untuk mengenali keburukannya. Barangkali tidak hanya itu, melainkan keseluruhan pribadi yang awalnya tidak terlihat pada tampilan luarnya. Contoh sederhananya adalah kalau kita suka pada ketegasan pacar kita, meskipun suatu kali nampak plin-plan, kita tetap tertarik padanya. Intinya cinta sejati tidak hanya sekedar melihat latar belakang kehidupan pacar kita, melainkan berpusat pada pribadi orang yang kita cintai. Saling menerima kekurangan dan kelemahan masing-masing merupakan sikap terbuka untuk membangun suatu relasi dan pondasi yang kuat. Maka cinta sejati mendorong orang untuk lebih menghargai, menghormati dan menerima keseluruhan aspek di dalam diri masing-masing. Saling mendukung dalam hidup dan membangun keterbukaan diri masing-masing merupakan pembelajaran dalam relasi. Nah di dalam cinta sejatipun “perbedaan” menjadi salah satu pondasi untuk saling berbagi. Nah kalau cinta itu dibangun dengan tulus tentunya, keberadaan kita akan diterima oleh orang lain. Teman kita akan menerima hubungan kita, artinya temanmu adalah temanku, temanku adalah temanmu juga. Maka cinta sejati akan bersifat inklusif, bukan eksklusif. Artinya semua orang lain dapat masuk jaringan relasi diantara kita dan orang yang kita cintai itu. Begitu yang tercatat dalam buku karangan teman saya. Lebih sederhananya teman saya merangkum pembedaan sebagai berikut:

Aspek Jatuh cinta Cinta sejati
Dasar ketertarikan pada pasangan Penampilan fisik yg bisa dikenali secara inderawi Keseluruhan pribadi yg ada di balik penampilan fisik
Waku permulaan Berlangsung cepat (hari/minggu) Bertahap, relatif lama (bulan/tahun)
Konsistensi ketertarikan Berubah-ubah tergantung pada mood atau kontak fisik yg disukai Konsisten menerima perubahan segi-segi yg bisa berubah dlm diri seseorang
Pengaruuh pd perkembangan kepribadian Mengganggu konsentrasi, berlaku aneh, tidak autentik Membangun, menjadi pribadi yg lebih realistis dan berkembang
Adanya perselisihan Lebih sering berat membahayakan Semakin jarang dan soal kecil yang tidak membahayakan
Dampak rasa cemburu Lebih sering dan merepotkan Jarang muncul dan tidak membebani
Sikap secara keseluruhan Prinsip apa yg kuperoleh Prinsip berbagi, membebaskan, memperhatikan kepentingan orang yg dicintai secara seimbang

Nah sobat! Jatuh cinta ataupun cinta sejati adalah anugrah. Sebuah karunia dari yang Ilahi untuk kita. Mengapa? Karena di dalam diri kita sudah ada cinta sejak dilahirkan. Setelah dewasapun cinta itu tetap ada. Terlepas cinta itu mau diekspresikan dalam relasi dengan sesama atau tidak (contoh Rahib kontemplatif) Kalaupun tidak, kita sebenarnya sudah membangun relasi dengan yang Ilahi. Kita ada di duniapun merupakan buah cinta dari yang Ilahi. Salam
Referensi
Buku Seks Gadis? Memahami Seks Membuktikan Cinta, karangan A. Setyawan, 2004 penerbit Galang press Yogyakarta.